2019.. I need FAITH

Bandung, 28 Januari 2019

Sudah mau sebulan kita menjalani tahun 2019. Pasti ada yang bilang “wah gak kerasa ya” tapi gak sedikit juga yang bilang “waktu rasanya berjalan lambat sekali”. Nah kalau kalian merasakan apa?

Gue mau flashback sedikit tentang tahun 2018. Itu adalah tahun terberat dalam hidup gue. Dalam segala aspek loh gue merasa kalau keadaan amat sangat buruk. Sepertinya semua malaikat kebaikan dan dewi fortuna sedang tidak berpihak pada gue. Intinya tahun itu gue kehilangan banyak hal termasuk pengharapan dan sukacita. *baca lagi post “Are you OK?

I’ve been feeling quite low and I know I need to get back up ASAP. Banyak yang harus di lakukan dalam waktu yang sangat amat tidak banyak. Umur gue gak lagi bisa di bilang muda. Lagi-lagi gue berargumen dengan otak gue sendiri bahwa sebenarnya kekuatan itu datang dari dalam but I told myself that sometimes you can’t negate the fact that the outside world affects you, one way or another. Kadang ada aja yang bisa menarik gue turun, secara emosi atau secara fisik. Kalau mengandalkan kekuatan sendiri, naik kembali ke level “kuat” yang di perlukan akan memakan waktu yang agak lama. I need optimism and positivism to be injected right into my veins. I need “FAITH”!!!!!

Setahun kemarin gue boleh kalah. Gue boleh terpuruk. Gue boleh dianggap remeh. Gue boleh dianggap sebelah mata. Tapi gue sangat amat belajar dari setiap hal yang gue lewati. Mungkin memang dengan cara begitu gue jadi belajar dan merubah cara gue melihat masalah dalam hidup. Gue sekarang sedang sibuk mencari ilmu untuk memperkaya hidup gue. Gue harus belajar untuk mendengarkan orang lain. Jangan takut untuk sibuk. Cari titik itu, dimana lo bisa belajar ilmu dan keterampilan hidup secara bersamaan. Berlarilah. Tapi enjoy the view while you’re running.

Jadi 2019? Gue akan melihat tahun perubahan untuk gue pribadi dan untuk orang di sekeliling gue. Meskipun gue belum tahu apa yang akan terjadi di depan, tapi saya tahu dengan siapa saya berjalan.

Yang mau melihat perubahan,

Riri Juliani Siaturi

Advertisements

Are you OK?

3049856-poster-p-1-the-7-fundamentals-of-sustainable-business-growth

Kadang-kadang gue tidak bisa menyangkali kalau gue pernah perpikir untuk mengakhiri hidup gue. Ha ha ha (upsss mungkin lebih dari sekali). Tapi gue belum sampai pada tahap berdiri di pinggir jembatan trus gue berniat loncat atau tangan kanan gue udh pegang pisau. No no no!!! Keberanian gue baru sampai di pikiran gue aja. Fighting my thoughts are harder than fighting with thugs. Kalau masalahnya sama manusia, tinggal pergi saja menjauh dari orang yang di permasalahkan (gampangnya). Kalau musuh terbesarmu adalah pikiranmu sendiri, there is no telling where or when you can stop.

Setelah kejadian beberapa bulan yang lalu menimpa hidup gue, orang jadi sering bertanya setiap kali ketemu, “Are you OK?”. Dan setiap saat gue akan selalu menjawab, “Iya lah. Kenapa harus gak baik?”. Jawaban yang sudah gue program sendiri ke dalam otak gue. Jawaban yang kadang-kadang gue lontarkan to make everything seem OK. Gue gak sedang berbohong kok kalau gue bilang hidup gue gak bermasalah, karena gue “sedang” belajar apapun masalah yang datang dalam hidup, I have to be OK.

When I think I am not fine, gue seperti sedang menggerogoti diri gue sendiri dan mulai mengambil nyawa gue perlahan-lahan. Banyak kata-kata negative yang akan gue ucapkan untuk diri gue sendiri. Mati. Gak berguna. Susah. Gak ada harapan. Dll. Ujung-ujungnya gue akan membuat sekeliling gue menjauh dari hidup gue.

Setelah di pikir-pikir, bukankah hidup memang seperti itu ya? Seorang teman pernah memberi saya perumpamaan tentang hidup. Hidup kita sama seperti seorang pendaki. Semakin tinggi ia menanjak semakin dekat dengan pemandangan indah yang akan ia liat. Tapi apakah jalan yang di tempu mulus? Gampang? Memang manusia tidak harus kuat setiap saat, tidak juga selalu kuat setiap saat kan? Gue akan selalu mengingatkan diri gue sendiri bahwa hidup itu tidak mudah. Yeah sure. Sometimes you laugh. Sometimes you’re happy. Sometimes you think that life would always be beautiful but then there are times that you realize that all these do not happen all the time. 

Hal yang sama juga harus di ingat bahwa hidup itu memang susah. Tapi tidak selamanyaIf you’re going through hell, keep going. Tidak ada yang bisa menjamin kalau hidup akan menjadi lebih mudah tapi anda akan melihat bahwa eventhough life’s tough, you have gotten tougher. Dan jujur saja, that thought alone makes you the toughest person you can ever be. Kalau kata orang, masalah akan tetap ada tapi cara kita melihat masalahnya yang akan berbeda.

Hidup akan terus berjalan dan masalah akan terus ada. Itulah HIDUP. Tidak ada seorangpun yang bilang bahwa hidup itu mudah, bahkan orang tua kita selalu ingatkan kita untuk menjadi pribadi yang kuat dan semakin kuat. Seperti seorang pendaki, coba aja sesekali lihat ke belakang. Seberapa jauh anda sudah berjalan, seberapa banyak masalah yang sudah kamu lewati. Seberapa banyak keringat dan air mata yang sudah jatuh. Berbanggalah kalau kita masih menjadi pemenang atas masalah-masalah hidup kita. Jangan berhenti!!!

Karena sampai sekarangpun gue masih berjuang untuk sampai di puncak gunung yang berbeda dengan pemandangan yang berbeda. Yang bisa membuat dirimu bahagia hanyalah dirimu sendiri. Kuatlah terlebih dahulu untuk dirimu sendiri.

Terus berjuang, kamu kuat. Saya juga kuat.

 

with love,

Riri Juliani Sianturi